Bicara mengenai budaya Jogja, tak lengkap rasanya kalau kita tidak membicarakan Pasar Malam Perayaan Sekaten (PMPS) atau warga Jogja biasa menyebutnya sebagai Sekaten. Yap, Sekaten memang identik dengan Kota Jogja. Sekaten ini diadakan setahun sekali, selama lebih dari satu bulan.
Sekaten itu sendiri, merupakan awal perayaan acara budaya dan religi yang diselenggarakan dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW yang bertepatan pada tanggal 12 Rabiul Awal atau 12 Mulud dan dilaksanakan di Alun-Alun utara Kota Yogyakarta. Kalau dari Malioboro ke selatan, langsung sampai Alun-Alun utara.
Acara Sekaten ini ditandai dengan keluarnya Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Nogo Wigo dari Bangsal Sri Manganti pada tanggal 5 Mulud ke Bangsal Ponconiti yang terletak di Kemandungan Utara (Keben). Kemudian, gamelan tersebut mulai dibunyikan selama sekitar satu jam, yakni antara pukul 23:00 hingga pukul 24:00 WIB, lalu kedua perangkat gamelan tersebut dipindahkan ke halaman Masjid Gedhe Yogyakarta dalam iringan abdi dalem jajar dan pengawal prajurit Kraton yang berseragam lengkap.
Puncak acara sekaten terjadi pada tanggal 12 Maulud, yakni ditandai dengan diselenggarakannya upacara GrebegMaulud setelah kedua perangkat gamelan dibawa masuk kembali ke dalam Kraton. Acara tersebut dilaksanakan pada pagi hari berupa iring-iringan gunungan yang dibawa ke halaman Masjid Gedhe setelah diadakan doa dan upacara persembahan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa setelah itu, diperebutkan untuk masyarakat umum.
Tahun ini acara PMPS (Pasar Malam Perayaan Sekaten) dilaksanakan mulai tanggal 07 Januari 2011 hingga 16 Februari 2011. Melewati parkiran sebelah utara Gedung Agung, untuk sampai ke alun-alun kita bisa berjalan ke selatan, suasana begitu ramai, bahkan banyak sekali orang-orang di depan kantor pos sekedar duduk-duduk atau sambil mengabadikan kalau mereka pernah menginjakkan tanah di Jogja yang akan tetap istimewa ini.
Nah sampailah di perempatan Kantor Pos Besar, demikian kami warga Jogja menyebut perempatan itu. Setelah beberapa langkah dari perempatan itu, kita akan dihadapkan dengan gapura khas perayaan sekaten, kanan dan kiri gapura bertuliskan dua kalimat syahadat, beserta artinya dalam bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa.
Jalan saat itu sudah sangat ramai dipenuhi para pedangan asongan yang menjajakan berbagai pernak-pernik khas Jogja. Sebelum memasuki Alun-Alun, para pengunjung diwajibkan membeli tiket masuk yang harganya Rp3.000,00.
Oke kita sudah sampai di area Sekaten, berbagi hiburan rakyat tersedia disini mulai dari dolanan jaman dulu hingga permainan masa kini, barang-barang ramai dijual mulai dari pakaian, tas, sepatu, pernak-pernik, sampai tanaman, juga ada pameran kendaraan-kendaraan dari merk terkemuka. Bapak, ibu, mas, mbak, adek, pakdhe, budhe, paklik, bulik, simbah, semuanya menikmati sekaten.
Namun tak kalah ketinggalan juga dari Pemerintah Provinsi Dareah Istimewa Yogjakarta juga melakukan pameran. Terdapat 16 peserta pameran di Sekaten tahun ini, yaitu:
- Badan Kerja Sama dan Penanaman Modal Provinsi DIY
- Dinas Pariwisata Provinsi DIY
- PT. Pagilaran
- Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi DIY
- Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga
- Balai Besar POM Provinsi DIY
- Dinas Kesehatan Provinsi DIY
- Badan Kesbanglinmas Provinsi DIY
- Dinas PPKA Provinsi DIY
- Dinas Sosial Provinsi DIY
- Dinas Tenaga kerja dan transmigrasi
- Dinas PU, Perumahan, dan ESDM Provinsi DIY
- Dinas Perindagkop dan UKM Provinsi DIY
- Dinas Pertanian Provinsi DIY
- Kanwil Dirjen Pajak DIY
- PT. Askes (Persero) cabang utama Yogyakrta
Di stand-stand tersebut kita dapat mengetahui bagaimana tata cara berinvestasi, obyek-obek wisata apa saja yang ada di Provinsi DIY, potensi kelautan dan perikanan DIY, sosialisasi pajak. Selain itu, di stand tersebut juga melakukan pelayanan umum yakni perpanjangan STNK, pengurusan NPWP dan pengurusan Askes.
Jadi siapa bilang Sekaten hanya hiburan saja?
Nah tunggu apa lagi ayo ke Jogja sekarang, selain ada sekaten yang memang menarik, tapi yang tak kalah pentingnya Jogja aman untuk di kunjungi.

January 25th, 2011
rahayuni 

